Apakah ada teknologi lain untuk mendeteksi gempa saat teknologi sensor pendeteksi gempa tidak mampu bekerja dengan baik?

Twitter kini sudah menjadi teknologi sensor pendeteksi adanya gempa konvensional. USGS menggunakan fitur dalam Twitter yang akan secara otomatis melakukan pensortiran tweet mengenai gempa yang dilakukan pengguna. Melalui tweet yang telah terkumpul inilah dapat dideteksi adanya aktifitas seismik di dunia.

Setelah dicoba fitur ini mampu memberikan informasi gempa yang terjadi hanya dalam waktu kurang lebih 30 detik saja.

Lembaga USGS menjadikan platform Twitter sebagai sumber sekunder untuk mengambil informasi mengenai gemba bumi yang ada di dunia. Data yang dihasilkan Twitter ini benar – benar independen.

Fitur atau program yang didapat dari blog Twitter tersebut bekerja dengan cara menyaring tweet yang lebih tujuh kata dan berisi link. Karena pada saat orang dalam keadaan situasi gempa tidak mungkin men-tweet yang panjang.

USGS pun menyatakan, melalui fitur ini dapat diketahui apakah gempa yang diprediksi oleh alat sensor gempa akurat atau salah. Dan USGS mampu menangkap gempa susulan di Chili dalam waktu kurang lebih 1.5 menit.

Lembaga yang USGS di Indonesia ini, memiliki 2.000 sensor seismik yang sebagian besar terletak di Amerika.

Jadi jangan khawatir, jaman sekarang perkembangan teknologi sudah canggih dan bisa digunakan oleh pengguna Twitter.