Siapapun yang secara rutin menggunakan media sosial pasti pernah merasa iri, senang, gembira, sedih melihat postingan teman-temannya. Ini sangat mungkin terjadi terutama jika kita sedang duduk di rumah pada malam hari yang dingin dan keadaan sedang hujan, merasa bosan menghabiskan liburan di rumah sementara orang lain berpesta atau berlibur di luar dengan teman-teman.

Tapi apakah mungkin bahwa perasaan ini bisa menjadi awal dari sesuatu yang lebih buruk? Bisa menggunakan media sosial benar-benar membuat kita tertekan? Baru-baru ini studi di AS yang disponsori oleh National Institute for Mental Health, mengidentifikasi “hubungan antara penggunaan media sosial dan perasaan depresi sangat kuat dan signifikan dalam … sampel dari remaja AS.” Studi ini membuktikan bahwa tingkat depresi meningkat yang di hitung dari jumlah total waktu yang dihabiskan untuk media sosial dan jumlah kunjungan ke situs media sosial per minggu. Studi sebelumnya telah melukiskan sebuah gambar yang lebih beragam, akan terlihat bahwa hubungan antara media sosial dan perasaab depresi dan kesejahteraan adalah kompleks dan cenderung dipengaruhi oleh sejumlah faktor.

Tingkat Depresi Meningkat Dengan Jumlah Waktu yang Dihabiskan Untuk Menggunakan Media Sosial.

Sosial Media Dapat Membuat Seseorang Depresi?

Mungkin ada banyak alasan kompleks mengapa penggunaan media sosial mungkin sangat berkaitan dengan perasaan depresi. Misalnya, ada kemungkinan bahwa orang yang sudah depresi mungkin akan lebih cenderung mengandalkan media sosial bukan interaksi face-to-face, sehingga penggunaan media sosial yang lebih besar mungkin merupakan gejala dan bukan penyebab depresi.

Kepopularitasan

Sosial Media Dapat Membuat Seseorang Depresi?
Kita semua memiliki hak dasar untuk disukai dan diterima oleh orang lain dan media sosial juga ada dalam lingkup ini. “Suka” adalah mata uang media sosial, dan orang-orang yang tingkat popularitasnya rendah dapat menempatkan popularitas dari penggunaan media sosial mereka dengan mencoba untuk menarik orang-orang seperti komentar sebagai cara untuk meningkatkan popularitas. Dengan cara ini, mungkin akan mendongkrak popularitas. Banyak sekali kontes popularitas di media sosial yaitu dengan mengumpulkan paling banyak “like” pada postingannya itu lah yang menang. Dan apa yang terjadi ketika kita tidak memenangkan kontes itu? kembali depresi kah kita? Ya dan ini cukup berbahya untuk sebagian orang dengan tingkat rasa ingin menang yang tinggi.

“Memenangkan” kontes popularitas  ya sangat wajar, ini adalah sifat manusia untuk membandingkan diri kita dengan orang lain. Kadang-kadang perbandingan dapat menjadi cara untuk menginspirasi diri kita untuk memperbaiki dalam beberapa cara, tapi lebih sering daripada tidak – terutama ketika seseorang sedang merasa sedih atau rentan terhadap depresi – perbandingan menjadi negatif, dan mengikis harga diri.

Tidak Semua Buruk
Banyak orang tua memiliki keraguan mengenai anak-anak mereka untuk menggunakan media sosial dan lebih dari satu orang tua telah membuat seorang remaja menangis, bingung atas argumen mengenai pelarangn menggunakan media sosial. Memilih meninggalkan media sosial akan berarti kehilangan akses ke jaringan teman mereka tetapi bagi sebagian orang tua tidak juga.

Pada saat ini, kita tidak cukup tahu tentang bagaimana cara menggunakan media sosial dan dampaknya terhadap suasana hati dan kesehatan mental jangka panjang. Sampai kita lakukan, mungkin pilihan terbaik adalah mengakui bahwa media sosial dapat menjadi alat yang berharga untuk tetap berhubungan dengan teman-teman. Mungkin juga perlu diingat bahwa, meskipun orang lain mungkin tampaknya terlihat bersenang-senang dengan postingan postingan yang di unggah tidak selalu berarti dia memiliki waktu yang lebih baik daripada kamu.

-Mark Widdowson –  Dosen Konseling dan Psikoterapi di University of Salford.